Kete Kesu
Kete Kesu
Tongkonan
Tanduk-tanduk kerbau yang dikorbankan dipasang berjejer di depan tongkonan

Kete Kesu terletak di sebelah selatan Rantepao, letaknya tidak jauh dari Rantepao, hanya sekitar 4 km. Dari Rantepao berkendaralah ke arah selatan, kemudian ada plang penunjuk jalan menuju Kete Kesu, beloklah ke kiri. Pemandangan menuju ke Kete Kesu sangatlah indah, bukit-bukit dan sawah terhampar disana. Biaya masuk ke Kete’ Kesu adalah Rp10 ribu per orang. Kete’ Kesu adalah sebuah kompleks rumah adat toraja yang disebut tongkonan dan pemakaman di tebing. Begitu masuk langsung terlihat deretan tongkonan yang unik. Kami pun berfoto-foto dengan berbagai pose. Salah satu tongkonan disana dijadikan museum, tapi pada saat itu masih belum buka.

Di depan Tongkonan
Di depan Tongkonan

Kami lalu berjalan ke arah belakang menuju tebing tempat pemakaman. Di kanan kiri jalan terdapat kios-kios yang menjual souvenir khas toraja. Nanti harus mampir kesitu nih… Oya, jika ingin melihat kerbau belang juga ada disini. Ada sebuah kandang yang berisi satu kerbau belang. Saya pun berfoto-foto sama kerbau ini. Kerbau belang adalah aktor utama di acara pemakaman atau pernikahan, oleh karena itu harganya sangatlah mahal, puluhan juta rupiah satu ekornya. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya menuju akhirat dan akan lebih cepat sampai di akhirat jika ada banyak kerbau. Saya sendiri baru kali ini melihat kerbau belang secara langsung karena kerbau belang ini memang hanya hidup di tana toraja. Kerbau ini memang unik, selain tubuhnya berwarna belang hitam dan pink, matanya juga memiliki banyak unsur warna putih. Semakin banyak warna pink di tubuh seekor kerbau maka makin mahal pula harganya. Jika ingin puas melihat kerbau belang datanglah ke Pasar Belo tempat jual beli kerbau. Tapi pasar ini hanya buka enam hari sekali dan sayangnya pada saat kami disana pasarnya lagi tutup.

Foto bareng kerbau belang
Foto bareng kerbau belang
20140405_085510
Makam yang mewah
Kuburan di tebing
Kuburan di tebing

Sesampainya di ujung jalan terlihat tebing menjulang yang di celah-celahnya terdapat peti-peti kayu tempat mayat disemayamkan. Peti-peti ini berbentuk rumah dan perahu kecil. Terlihat juga tengkorak-tengkorak dan tulang-tulang berserakan di celah-celah tebing. Di beberapa titik juga terdapat sesajen yang berisi rokok, makanan, dan minuman soda (mungkin itu dulu kesukaan orang yang meninggal semasa hidup ya…). Di bagian bawah tebing terdapat dua buah makam yang sangat besar berbentuk rumah dan di depannya ada patung manusia yang dibuat mirip dengan orang yang meninggal. Kami juga melihat sebuah lubang di tebing yang tertutup pagar besi dan digembok. Di dalamnya terlihat patung-patung sebuah keluarga. Konon di dalam lubang itu, selain makam juga terdapat benda-benda berharga almarhum sehingga dipagari dan digembok.

Makam dengan jeruji besi dan gembok
Makam dengan jeruji besi dan gembok
20140405_090134
di depan tebing

Upacara pemakaman suku toraja kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

IMG_1843
yang digantung di atas itu tulang rahang kerbau lho
Pilih yang mana yaa
Pilih yang mana yaaa…..

Setelah puas melihat kuburan di tebing, sekarang tiba waktunya untuk berbelanja. Souvenir yang dijual disini kebanyakan adalah ukiran kayu khas toraja. Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Selain itu juga motif kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Tentunya saya membeli ukiran kayu tersebut untuk hiasan dinding di rumah. Selain untuk hiasan dinding, ukiran kayu juga dibuat dalam bentuk peralatan rumah tangga seperti baki, asbak, tempat tissue, tatakan gelas, dan lain sebagainya. Saya memilih sebuah baki kecil dengan harga Rp 50 ribu untuk saya bawa pulang. Disana juga dijual kain-kain dengan motif toraja, tapi sayang tidak banyak motifnya. Saya pun membeli kain dengan motif ornamen khas toraja kembaran dengan grandis. Punya saya warna putih dan pink, sedangkan punya grandis warna hijau dan emas. Harga kain itu per lembarnya 105 ribu dengan panjang 3 meter.

Partner travellingku di Toraja
Partner travellingku di Toraja
IMG_1868
Motor yang mengantar kami keliling Toraja
Jalan masuk ke Kete Kesu
Jalan masuk ke Kete Kesu
Advertisements